let it be

Tentang Cinta


1001 macam yang ngartiin berbagai macam cinta. Baik itu hanya berupa kata sifat, atau di ilustrasikan dengan suatu hal.

Mencari Cinta ibarat kupu – kupu, makin dikejar makin susah ditangkap. Nggak dikejar malahan nyamperin. Mendapat cinta Ibarat mawar, bisa aja dapet wanginya, kadang2 harus terluka karena durinya

Cinta bukan kupu – kupu atau mawar, bukan juga termasuk dalam golongan benda seperti dalam ilmu IPA waktu kita sekolah dulu (padat, cair, gas). Bukan juga sifat. Cinta adalah rasa, tapi bukan yang bisa dirasa dengan indera seperti juga dalam pelajaran SD dulu.

Universal ? Barangkali ini mendekati pas. Tergantung penilaian dan pengertian masing – masing individu. Tergantung waktu dan ruang. Cinta adalah penilaian dari nurani. Yang memberikan kedamaian atau sebaliknya. Yang bisa memaksa otak dan syaraf untuk bekerja di luar kendalinya atau sebaliknya juga.

Nggak pernah bisa ditebak kapan tu cinta datang, atau kita paksa untuk pergi. Asal muasalnya dari senyuman, bisa juga dari suara, berkembang dengan kata – kata indah dan menjadi rasa nyaman. Kemudian bergejolak karena pertentangan dua ego, karena perbedaan prinsip Akibatnya, muncul yang namanya benar dan salah, iya dan tidak. Nggak sedikit yang gagal dalam masalah pertentangan ini, ketika yang satu bilang salah dan yang satu bilang bener. Yang ini iya yang itu tidak. Nggak sedikit yang akhirnya harus berjalan masing2, mencari mawar baru atau menunggu kupu2 menghampiri…

Gagal ??? Ngga juga. Justru di situ awal mulanya pembelajaran. Karna di situ banyak muncul pertanyaan yang mesti kita jawab. Banyak sikap yang harus kita ambil untuk menjadi lebih baik, Dan di sini peranan ego, sifat dan prinsip bermain dengan kencang.

Pernikahan, inilah kelanjutan cinta. Tempat di mana semua ego dan sifat jelek harus di kesampingkan. Tempat hawa nafsu dan energi negatif harus dimatikan. Di sini juga cinta kita di uji, dipertaruhkan di hadapan sang pencipta dan Undang-Undang.

Buah dari cinta dan pernikahan adalah anak, harapan semua umat manusia sebagai mahkluk yang paling sempurna. Sejak tangis pertama dan seiring perkembangannya, seiring pula cinta kita tumbuh dan berkembang menjadi gumpalan salju yang semakin besar. Tidak ada kata tidak untuk anak. Memberi tanpa balas, memaaf tanpa dendam, melepas untuk kebahagiannya.

Sampai akhirnya, kita tutup usia. Dan semoga kita bisa tersenyum, saat kita harus meninggalkan orang – orang yang kita cintai, Saat kita merasa selesai melaksanakan dan mengajarkan arti cinta kepada orang – orang yang kita tinggalkan. Kembali kepada-NYA, yang selalu mencintai.

Sakit, sedih, senang, bahagia, itulah bagian dari cinta. Bagian dari apa yang sudah disisipkan sejak jerit tangis pertama kita pecah. Sebuah pembelajaran dan motivasi untuk bisa merubah sikap, mengerti akan makna memberi tanpa pengharapan. Mengerti akan maaf dan makna kata tulus. Membuat senyuman dan kedamaian untuk orang – orang yang masih dan selalu ada di hati kita. Dan kembali kepada-NYA dengan senyuman pula. Itulah cinta ….

aku mencintaimu mam…, buat PEREMPUAN calon mama…


Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia
selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan
mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’
membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua
pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya
sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku
merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali
mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena
aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku
yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu.
Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari
suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.Saat pertama kali aku
masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke
dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.

Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang
menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya
menunggu.Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama
teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit,
ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku
menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah
tangga.Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan
bersamanya.Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi
dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja
mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak
menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak
aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah
membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk
membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia
pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya.
Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan
kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku
terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku
menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di
perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang
pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang
bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian
komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas
permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak
berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas
yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang
berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya
jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah
menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguk nya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa
segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding
kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak
sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

Falsafah lima jari


1. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.
2. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.
3. Ada si jangkung jari tengah yang sombong dan suka menghasut jari telunjuk.
4. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi  hadiah cincin.
5.Dan ada kelingking yang lemah dan penurut serta pemaaf (ingatkah anda
waktu kecil kalau kita berbaikan dengan musuh kita pasti saling sentuh
jari kelingking?).

Dengan perbedaan positif dan negatif yang dimiliki masing-masing jari, mereka bersatu untuk mencapai tujuan (menulis, memegang, menolong anggota tubuh yg lain, melakukan pekerjaan, dll).

Pernahkah kita bayangkan bila tangan kita hanya terdiri dari jempol semua?

Falsafah ini sederhana namun sangat berarti. Kita diciptakan dengan segala
perbedaan yang kita miliki dengan tujuan untuk bersatu, saling menyayangi,saling menolong, saling membantu, saling mengisi, bukan untuk saling menuduh, menunjuk, merusak, dan bahkan membunuh. Sudahkah kasih sayang anda hari ini bertambah? Semoga bermanfaat.

Belajar Mencintai?


Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan.

Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan, itu kesempatan.

Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, Itupun adalah kesempatan.

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan.

Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu Dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita.Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa,

Ada suatu kutipan dari film yang mungkin sangat tepat :

“Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil”
Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang. Yang diciptakan hanya untukmu.
Tetapi tetap berpulang padamu

Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak…

Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, Adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna

Kekasih sejati vs Kekasih standard


Kekasih standard selalu ingat senyum diwajahmu
Kekasih sejati juga mengingat wajahmu waktu sedih

Kekasih standard akan membawamu makan makanan yang enak-enak
Kekasih sejati akan mempersiapkan makanan yangkamu suka

Kekasih standard setiap detik selalu menunggu telpon dari kamu
Kekasih sejati setiap detik selalu teringat ingin menelponmu

Kekasih standard selalu mendoakan mu kebahagiaan
Kekasih sejati selalu berusaha memberimu kebahagiaan

Kekasih standard mengharapkan kamu berubah demi dia
Kekasih sejati mengharapkan dia bisa berubah untuk kamu

Kekasih standard paling sebal kamu menelpon waktu dia tidur
Kekasih sejati akan menanyakan kenapa sekarang kamu baru telpon?

Kekasih standard akan mencarimu untuk membahas kesulitanmu
Kekasih sejati akan mencarimu untuk memecahkan kesulitanmu

Kekasih standard selalu bertanya mengapa kamu selalu membuatnya sedih?
Kekasih sejati akan selalu mananyakan diri sendiri mengapa membuat kamu sedih?

Kekasih standard selalu memikirkan penyebab perpisahan
Kekasih sejati memecahkan penyebab perpisahan

Kekasih standard bisa melihat semua yang telah dia korbankan untukmu
Kekasih sejati bisa melihat semua yang telah kamu korbankan untuknya

Kekasih standard berpikir bahwa pertengkaran adalah akhir dari segalanya
Kekasih sejati berpikir, jika tidak pernah bertengkar tidak bisa disebut cinta sejati

Kekasih standard selalu ingin kamu disampingnya menemaninya selamanya
Kekasih sejati selalu berharap selamanya bisa disampingmu menemanimu

kekasih standard selalu berusaha menjanjikanmu yang selama ini kau impikan
kekasih sejati akan berhati-hati dalam berjanji karena dia tidak ingin kau kecewa

kekasih standard akan membahas semuanya denganmu
kekasih sejati tidak ingin kau memikirkan apa-apa,dia sudah menyiapkan semuanya untukmu

kekasih standard akan merindukanmu ketika kau jauh
kekasih sejati akan tetap merindukanmu bahkan ketika kau didekatnya

PADA SAAT TUHAN MENCIPTAKAN PARA IBU



Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. Kini giliran diciptakan para ibu. Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut : “Tuhan, banyak nian waktu yang Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?”
Dan Tuhan menjawab pelan: “Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?
01) Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik.
02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai.
03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya.
04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan
05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan kaki yang keseleo
06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
07) enam pasang tangan!!
Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya: Enam pasang tangan….? tsk tsk tsk” —
“Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur Segalanya menjadi lebih baik….” balas Tuhan
08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu
“Bagaimana modelnya?” Malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk-angguk. “Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya: “Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?”, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya. “Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya,sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: “Saya mengerti dan saya sayang padamu”. Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.
“Tuhan”, kata malaikat itu lagi, “Istirahatlah”
“Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai.”
09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging
11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi……
Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.
“Tapi kuat!” Kata Tuhan bersemangat.
“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita.”
“Apakah ia dapat berpikir?” tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, idea dan berkompromi”, kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu diatas di pipi, “Eh, ada kebocoran di sini”.
“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan. “Itu adalah air mata…. air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata…., air mata….”
“Tuhan memang ahlinya….”, Malaikat berkata pelan.

ANTARA SUKA, CINTA DAN SAYANG


Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang
indah

Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya
suasananya lebih indah sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat

Dihadapan orang yang kau sukai,
kau hanya merasa senang dan gembira saja

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau cintai, matamu berkaca-kaca

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau sukai, engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang
terdalam

Dihadapan orang yang kau sukai,
kata kata hanya keluar dari pikiran saja

Jika orang yang kau cintai menangis,
engkaupun akan ikut menangis disisinya

Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan
rasa suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
cukup dengan menutup telinga.

Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari
orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi
tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam
jarak waktu yang cukup lama.

“Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta… ada
perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang…. rasa yang tidak hilang
secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah
berubah.

Perasaan yang dapat membuat mu berkorban
untuk orang yang
kamu sayangi.
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang
kamu sayangi.

Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin
melihat orang yang disayanginya bahagia..
walaupun harus kehilangan.”

Ayam dan Sapi


“Kenapa sih”, kata seorang kaya pada pelayannya, “Orang-orang mengataiku pelit. Padahal semua orang kan tahu kalau aku wafat nanti, aku akan memberikan semua yang aku punya pada yayasan sosial dan panti asuhan?” “Akan saya ceritakan fabel tentang ayam dan sapi,” jawab pelayannya.

“Sapi begitu populer, sedangkan sang ayam tidak sama sekali. Hal ini sangat mengherankan sang ayam. ‘Orang-orang berkata begitu manis tentang kelemahlembutan dan matamu yang begitu memancarkan penderitaan’, kata ayam pada sapi. ‘Mereka mengira kamu begitu murah hati, karena tiap hari kamu memberi mereka krim dan susu. Tapi bagaimana dengan aku? Aku memberikan semua yang aku punya. Aku memberikan daging ayam. Aku memberikan bulu-buluku. Bahkan mereka memasak dan membuat sup dengan kakiku untuk kaldu. Tidak ada yang seperti itu. Kenapa sih kok bisa begitu ?’”

“Apakah anda tahu apa jawaban sang sapi?”, kata pelayan.

Sang sapi berkata, “Mungkin karena aku memberikannya sewaktu aku masih hidup.”

Pribadi To Do, To Have, atau To Be?


Tidak ada yang bisa menghentikan waktu.
Ia terus maju. Umur terus bertambah.
Manusia pun mengalami babak-babak dalam
hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang
memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk
melakukan sesuatu (to do). Ada saat
memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to
have). Ada yang giat mencari makna hidup
(to be). Celakanya, tidak semua orang
mampu melewati tiga tahapan proses itu.

Fase pertama, fase to do. Pada fase ini,
orang masih produktif. Orang bekerja
giat dengan seribu satu alasan. Tapi,
banyak orang kecanduan kerja, membanting
tulang, sampai mengorbankan banyak hal,
tetap tidak menghasilkan buah yang lebih
baik. Ini sangat menyedihkan. Orang
dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada
kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita
singkat ini. Ada orang melihat sebuah
sampan di tepi danau. Segera ia meloncat
dan mulailah mendayung. Ia terus
mendayung dengan semangat. Sampan memang
bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari
bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu
masih terikat dengan tali di sebuah tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah
bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak
produktif. Seorang kolega memutuskan
keluar dari perusahaan. Ia mau membangun
bisnis sendiri. Dengan gembira, ia
mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan
brosur disebar. Ia bertingkah sebagai
orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya
belum menghasilkan apa-apa. Tentu,
kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay
Abraham, pakar motivasi bidang keuangan
dan marketing pernah berujar, "Banyak
orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak
ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis."
Marilah kita menengok hidup kita
sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan
bekerja giat, tapi tanpa sadar kita
tidak menghasilkan apa-apa?

Fase kedua, fase to have. Pada fase ini,
orang mulai menghasilkan. Tapi, ada
bahaya, orang akan terjebak dalam
kesibukan mengumpulkan harta benda saja.
Orang terobesesi mengumpulkan harta
sebanyak-banyaknya. Meski hartanya
segunung, tapi dia tidak mampu menikmati
kehidupan.
Matanya telah tertutup materi dan lupa
memandangi berbagai keindahan dan
kejutan dalam hidup. Lebih-lebih,
memberikan secuil arti bagi hidup yang
sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam
fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk
memiliki banyak hal. Sentra-sentra
perbelanjaan yang mengepung dari
berbagai arah telah memaksa kita untuk
mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru.
Orang yang sukses adalah orang yang
mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi
keliru ini sering membuat orang
mengorbankan banyak hal. Entah itu
perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun
spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah
buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri
bisa dibangun dengan prestasi-prestasi
yang dimiliki. Namun, persoalan terletak
pada kelekatannya. Orang tidak lagi
menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur
produksi membeberkan kejujuran di balik
kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan
kedua anaknya yang memburuk. "Andai saja
meja kerja saya ini mampu bercerita
tentang betapa banyak air mata yang
menetes di sini, mungkin meja ini bisa
bercerita tentang kesepian batin
saya…," katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri
kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini
seperti minum air laut. Semakin banyak
minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita
terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini,
orang tidak hanya bekerja dan
mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang
terus mengasah kesadaran diri
untuk menjadi pribadi yang semakin baik.
Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi
menjadi kaya karena masa kecilnya cukup
miskin. Saat umur menyusuri senja, ia
sudah memiliki semuanya. Ia ingin
mesyukuri dan memaknai semua itu dengan
membuka banyak klinik dan posyandu di
desa-desa miskin.